Senin, 14 November 2016

MENATA HATI

Keajaiban Hati


 

‘Sesungguhnya kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan sesuatu bergantung pada kondisi dasarnya. Kondisi dasar sesuatu adalah menyangkut untuk apa ia diciptakan. Oleh karena itu, kenikmatan mata adalah dengan melihat yang indah-indah. Kenikmatan telinga adalah dengan mendengar suara-suara merdu. Begitulah seterusnya untuk anggota badan lainnya. Namun, khusus berkaitan dengan hati, kenikmatannya hanyalah manakala ia dapat mengenal Allah swt., karena hati diciptakan untuk itu. Jika manusia mengetahui apa yang tidak diketahuinya, maka senanglah ia. Begitu juga dengan hati. Manakala hati mengenal Allah swt., maka senanglah ia, dan ia tidak sabar untuk ‘menyaksikan-Nya’. Tidak ada yang maujud yang lebih mulia dibanding Allah, karena setiap kemuliaan adalah dengan-Nya dan berasal dari-Nya. Setiap ketinggian ilmu adalah jejak yang dibuat-Nya, dan tidak ada pengetahuan yang lebih digdaya dibanding pengetahuan tentang diri-Nya.’
Untaian kata-kata itu keluar dari goresan pena Hujjatul Islam, al-Imam al-Ghazali rahimahullah.
Hati memang ajaib!

Al-Qur’an itu ajaib. Dia bisa berfungsi sebagai cermin, untuk memberi tahu kita bahwa hati kita saat ini punya kecenderungan ke mana.


Kalau hati yang cederung suka harta, dia akan senang dengan ayat-ayat semacam kekayaan akan berlipat karena memberi, mencari ayat (zikir maupun dalil) untuk menambah kaya, dan semacamnya.
Kalau ada amarah dalam hati, hati akan suka dengan ayat semacam ‘bunuhlah orang kafir di mana saja kamu berada’–cenderung tanpa memperhatikan konteksnya.

Kalau ada kecenderungan syahwati, hati akan membayangkan bidadari-bidadari surga ketika membaca ayat tentang itu.

Kalau ada kecenderungan merasa diri lebih suci dan lebih baik dari orang lain, biasanya memikirkan orang lain, bukan diri sendiri, ketika Qur’an bicara tentang kekafiran atau hati yang tertutup.
Kalau ada kecenderungan merasa diri ‘pasti masuk surga’, ketika Qur’an bilang tentang manusia-manusia yang diseret ke neraka, pikirannya akan bilang bahwa ‘itu bukan saya’.

Kalau merasa alim, dia merasa bahwa ia sudah mengerti Qur’an ketika membaca ayat-ayatnya. Padahal, jangkauan makna Qur’an tak terhingga.

Kalau ingin paham agama, hati nurani akan bertanya, ‘kok ayatnya melompat-lompat, nggak jelas’?
Kalau ingin tahu tentang Allah, hatinya akan senang dengan apapun yang bisa menambah pemahamannya tentang Dia, walaupun cuma sejengkal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar