Minggu, 16 Oktober 2016

Kejarlah Akhirat maka Dunia Akan Mengejarmu

  


Ketika seorang Muslim mengejar pahala demi kebahagiaan di akhirat, maka akan ditambah nikmat dunianya oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah berikut ini.
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
Firman Allah SWT tersebut menegaskan bahwa kehidupan akhirat lebih penting dan lebih banyak manfaatnya bagi seorang Muslim jika ingin mengejarnya. Semua orang sudah mengetahui bahwa hidup di dunia hanya sebentar dan hidup yang abadi itu di akhirat kelak. Rasulullah saw pernah bersabda, “Umur umatku hanya sekitar 60 sampai 70 tahun”

Walaupun kesadaran dan keyakinan kita mengenai hidup di dunia yang berlaku sementara sedangkan hidup di akhirat adalah kehidupan yang abadi dan kekal, tak lantas membuat kita sadar sepenuhnya. Lihatlah dan perhatikanlah betapa banyak orang yang mengabaikan akhirat, mereka sibuk dan asyik dengan dunia, seolah-olah merasa bahwa akan tinggal selamanya di dunia yang fana ini. Mereka lupa bahwa mereka sedang berjalan menuju akhirat. Lihatlah segala peristiwa seperti kematian dan bencana, apakah tanda-tanda dari Allah tersebut masih kurang membuat kita sadar?
Hidup merdeka di akhirat kelak, sangat ditentukan oleh kualitas hidup kita di dunia. Kualitas baik atau buruknya kita menjalani hidup di dunia, menentukan sukses atau gagalnya kita hidup di akhirat. Sukses hidup di akhirat artinya masuk surga, sedangkan gagal hidup di akhirat artinya masuk neraka. Ibarat menabung di usia muda, maka akan menentukan kehidupan kita di masa tua. Kembali lagi bahwa semuanya tergantung pilihan seorang mukmin dalam menjalani hidup yang menjadi haknya, karena sejatinya hidup itu pilihan. 
Pilihan antara hidup sukses atau gagal di akhirat, tergantung pada kepandaian dan ketepatan kita dalam memilih jalan hidup di dunia. Ingatlah, Rasulullah saw pernah menerangkan bahwa akhirat jauh lebih penting daripada dunia. Beliau pernah bersabda, “Perbandingan dunia dengan akhirat, seperti seseorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut, lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.” (HR. Muslim). Di sini Rasulullah saw ingin menegaskan betapa luar biasanya perbandingan akhirat dengan dunia. Dunia hanya sekedar sisa air yang tertinggal di jari sewaktu dicelupkan dan diangkat darinya, sedangkan laut yang luas itu ibarat akhirat yang kekal dan abadi.
Sebagai tambahan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT dengan sangat jelas menerangkan bahwa yang harus dicari oleh umat Muslim adalah kebahagiaan akhirat, walaupun begitu kita juga tidak boleh melupakan atau mengabaikan begitu saja kebahagiaan di dunia. Sebagaimana firman Allah berikut ini.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak akan menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77)
Dari hadis Nabi dan firman Allah SWT di atas, kita menjadi tahu bahwa pilihan kita dalam hidup ini adalah harus mengutamakan akhirat daripada dunia. Bagaimanakah cara mengutamakan akhirat dari hidup kita di dunia?
1)      Luruskan Niat Hanya Mencari Ridho Allah
Kunci utama agar hidup kita lebih mementingkan akhirat daripada dunia terletak pada niat kita. Apakah niat kita hanya niat-niatan ataukah niat hanya untuk mencari ridho dari Allah SWT. Niat yang hanya niat-niatan pada hakikatnya melakukan segala sesuatu yang disukai diri sendiri dan orang lain. Hal ini berbeda halnya dengan niat yang diniatkan untuk mencari ridho dari Allah SWT, karena pada hakikatnya niatan ini dilakukan atas segala sesuatu yang yang menjadi kesukaan Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman :
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163)
Di sini Allah menuntun kita agar dalam melakukan apa saja hanya dengan niat ikhlas hanya mencari ridho Allah. Bahkan hidup, mati dan segala yang ada serta yang belum ada sesungguhnya harus kita niatkan untuk Allah SWT. Kemudian sangat tidak boleh menyekutukanNya dengan apapun itu juga (Laa syariika lahu).
Kenapa niat menjadi penting dalam hidup kita? Karena kata Rasulullah saw bahwa, “Innamal a’malu binniyaat.” (Sesungguhnya amal tergantung pada niatnya). Bahkan dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda, “Niyatul mukmin khairun min ‘amalihi.” (Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya).
Jadi, amal kita bahkan pahala yang akan di dapatkan dari amal tersebut tergantung dari niat kita sewaktu melakukannya. Sewaktu niatnya hanya mencari ridho Allah, maka akan dibalasNya dengan pahala. Sebaliknya, jika niatnya hanya karena selain Allah, maka tidak akan mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT.
Oleh karena itu, kita perlu hati-hati dalam memasang niat. Kalau niat kita hanya untuk mendapat dunia, maka yang kita perolehpun hanya dunia saja. Tidak akan mendapatkan akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an berikut ini.
“….Maka di antara manusia ada orang yang berdoa; “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagia (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Sangat jelas dalam firman Allah tersebut menerangkan bahwa kalau kita hanya mencari dunia, maka tidak akan mendapatkan bahagia di akhirat kelak.
Rasulullah saw pernah bersabda, “Barangsiapa mencintai dunia, niscaya membawa kepada binasa di akhirat, dan barangsiapa mencintai akhirat niscaya beroleh keuntungan di dunia. Maka utamakanlah apa yang kekal, atas apa yang fana (lenyap binasa).” (HR. Ahmad, Al Bazzar dan Ath-Thabrani)
2      Selalu Pertimbangkan Akhiratnya Atas Suatu yang Akan Dilakukan
Kiat berikutnya agar kita selalu mengutamakan akhirat daripada dunia adalah dengan selalu mempertimbangkan akhiratnya dari semua kegiatan yang akan dilakukan. Jadi, waktu kita ingin berbicara ataupun sewaktu ingin melakukan sesuatu, maka lihat dampak akhiratnya. Kalau mendatangkan manfaat atau menguntungkan akhirat maka lanjutkan, tapi kalau mendatangkan kerugian (mudharat) akhirat maka segera hentikan, tinggalkan kegiatan tersebut dan jangan lakukan lagi.
Mempertimbangkan akhirat artinya kita mempertimbangkan firman-firman Allah dan hadis-hadis Nabi dalam membuat keputusan dalam melakukan kegiatan apapun. Sebab segala ajaran yang datang dari firman Allah dan hadis Nabi pasti mendatangkan manfaat dan keuntungan kita di dunia, terlebih lagi di akhirat.
Sebaliknya kalau ada yang mencintai dunia, yang akan terjadi adalah dosa atau maksiat. Sebagaimana hadis Nabi, “Hubbud dunya ra’su kulli khati’ah.” (Cinta dunia pokok pangkal kesalahan/dosa). Bahkan kata Nabi: orang-orang yang mencintai dunia akan dilemparkan masuk neraka bersama-sama dengan dunia yang dicintainya. 
Rasulullah saw pernah menyatakan bahwa di Hari ‘Pengadilan’ kelak, dunia akan tampak dalam bentuk seorang nenek sihir yang seram, dengan mata yang hijau dan gigi bertonjolan. Orang-orang yang melihatnya akan berkata, “Ampun! Siapa ini?” Malaikatpun akan menjawab, “Inilah dunia yang deminya engkau bertengkar dan berkelahi serta saling merusak kehidupan satu sama lain.” Kemudian wanita itu akan dicampakkan ke dalam neraka, sementara dia menjerit keras-keras, “Oh Tuhan, di mana pencinta-pencintaku dahulu?” Tuhan pun kemudian akan memerintahkan agar mereka (pecinta dunia) juga dilemparkan mengikutinya. (Al-Ghazali)
Bahkan Allah sendiri telah mengancam orang-orang yang lebih cenderung kepada dunia dengan neraka Jahim, sebagaimana firmanNya dalam Al-Qur’an berikut ini.
“Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka, sesungguhnya neraka lah tempat tinggal(nya).” (QS. An’Naziat: 37-39)
Melampaui batas itu artinya kita tidak mempertimbangkan akhirat untuk semua kegiatan kita. Malah lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Mereka tidak memedulikan betapa banyaknya ancaman bagi pencinta dunia. Maka akhirnya bagi mereka (pecinta dunia) ini, Allah telah siapkan neraka Jahim untuk menjadi tempat tinggalnya.
Oleh sebab itu, mari utamakanlah akhirat daripada dunia. Pentingkanlah hidup untuk akhirat daripada dunia. Insyaallah, jika kita niatkan hidup di dunia hanya untuk mencari ridho guna kebahagiaan di akhirat kelak, maka senantiasa Allah dengan janjinya akan menurunkan keberkahan dan kenikmatan kita di dunia, sebab sejatinya pangkal dari hidup ini menuju pada alam yang kekal yakni akhirat. Semoga dengan niat mencari ridho Allah SWT, maka insyaallah akan kita dapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan hidup di akhirat. Aamiin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar